Kesehatan / Wawasan / Hemodialisis??? Tidaaakkk….

Hemodialisis??? Tidaaakkk….

Hemodialisis adalah terapi yang dilakukan bagi pasien gagal ginjal akut dan kronis yang sudah memasuki stadium akhir. Pada stadium ini, dokter sudah menyatakan bahwa ginjal sudah kehilangan sebagain besar fungsi kerjanya. Biasanya hemodialissi dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu atau 8-15 jam per minggu.

Secara psikologis, biasanya seorang pasien yang disarankan untuk melakukan terapi hemodialisis akan merasa shock atau down. Karena kata itu seperti merupakan momok yang menakutkan bagi pasien gagal ginjal. Prosesnya yang memakan waktu 4-5 jam per terapi dengan alat besar yang memiliki dua selang besar menuju tubuh, membuat hati lebih menciut.

Terapi hemodialisis dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  1. Manual

Hemodialisis yang dilakukan dengan cara manual adalah dengan menusukkan satu selang (biru) ke pembuluh darah vena di daerah pangkal paha (selangkangan) dan satu selang (merah) ke pembuluh arteri di daerah tangan. Selang biru sebagai akses masuk darah dari tabung ke tubuh. Sementara selang merah sebagai akses keluar darah dari tubuh ke tabung.

  1. Menggunakan kateter

kateter hemodialisis

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/141/jtptunimus-gdl-imamhadiyu-7043-3-babiit-i.pdf

Hemodialisis menggunakan kateter adalah dengan melakukan operasi pemasangan selang di arena dada, dekat jantung. Pada operasi tersebut dipasang akses untuk keluar dan masuknya darah. Jadi dua selang sudah dipasang di satu lokasi. Namun, dokter menyarankan agar penggunaan kateter ini tidak lebih dari sebulan karena memiliki resiko infeksi yang cukup tinggi.

  1. Menggunakan cimino

Hemodialisis menggunakan cimino adalah cara terbaru. Operasi cimino ini adalah proses dimana pembuluh vena dan arteri digabungkan membentuk fistula atau sambungan. Maka selang hemodialisis cukup dipasang di satu tangan. Selang merah di tangan bagian bawah dan selang biru di tangan bagian atas.

proses hemodialisis

http://2.bp.blogspot.com/-UX30G5Ar8Ck/UzwLeVDzZCI/AAAAAAAAAKo/XHH8N1Sg8kA/s320/dialisis-gagal-ginjal.jpg

Dalam proses hemodialisis terjadi dua proses yaitu pembersihan atau pencucian darah serta penarikan cairan. Sebelum melakukan hemodialisis, pasien wajib menimbang berat badan dan mengukur tensi darah.

Pengukuran berat badan dimaksudkan untuk mengetahui berapa kenaikan berat badan setelah hemodialisis sebelumnya dengan berat badan saat akan hemodialisis lagi (saat itu). Selisih atau kenaikan berat badan tersebut menandakan berapa banyak cairan yang harus ditarik saat hemodialisis hari itu. Misalkan setelah hemodialisis pada hari Senin, pasien memiliki berat 50 kg. Sementara pada hari Kamis, saat akan hemodialisis lagi, berat badan pasien 53 kg. Maka hemodialisis hari Kamis, penarikan carian adalah sebanyak 3000 ml.

Pasien dan keluarga pasien tidak perlu kaget atau bingung ketika menimbang karena penurunan berat badan setelah hemodialisis. Salah satu tujuan dari hemodialisis adalah mengurangi kadar cairan di tubuh agar tidak menumpuk dan mengakibatkan sesak.

Cairan di dalam tubuh dapat menyebabkan sesak karena cairan ini mengganggu sistem kerja paru-paru. Penyebabnya adalah karena cairan tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal sehingga menumpuk di dalam tubuh. Jika pasien mengalami penumpukan cairan, selain sesak napas, pasien pun akan mengalami pembengkakan pada kaki.

Saat pertama kali hemodialisis, tentu pasien akan merasakan takut atau tegang. Cobalah tenangkan pasien. Dan bagi keluarga pasien, tenangkan juga diri Anda. Jika Anda tidak sanggup melihatnya, lebih baik Anda keluar dari ruangan hemodiasis.

Setelah menjalani hemodialisis, pasien akan merasakan beberapa hal yang berbeda, yaitu:

  1. Tubuh lebih segar;
  2. Tidak mudah lelah;
  3. Napas tidak sesak;
  4. Pusing hilang;
  5. Makan lebih lahap;
  6. Bisa tidur nyenyak dan lelap; dan
  7. Tubuh lebih ringan.

Namun, tentu setiap pasien mengalami fase adaptasi terlebih dahulu. Biasanya fase ini terjadi selama satu hingga tiga bulan pertama. Sebagai saran, sebaiknya ketika hemodialisis gunakanlah baju yang nyaman, tipis, dan menyerap keringat. Beberapa kejadian pada awal menjalani proses hemodialisis adalah:

  1. Mual;
  2. Pusing;
  3. Demam;
  4. Sesak napas;
  5. Tremor;
  6. Menggigil;
  7. Keram; dan
  8. Kepanasan.

Namun, pasien dan keluarga pasien tidak perlu panik. Karena itu adalah reaksi yang wajar saat proses hemodialisis. Setelah tubuh pasien bisa beradaptasi dan terbiasa dengan hemodialisis, maka reaksi seperti itu jarang terjadi. Setelah tubuh beradaptasi, hemodialisis bukanlah suatu terapi yang menakutkan. Terapi ini cukup nyaman. Selama terapi pasien dapat makan, minum, bercanda, membaca, bekerja, dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi rasa sakit ketika ditusuk jarum dalam proses hemodialisis, gunakanlah semprotan Ethylchloride Spray. Harga semprotan ini sekitar Rp 75.000,- hingga Rp 125.000,- Semprotan ini adalah bius lokal yang disemprotan ke kulit sebelum penusukan jarum. Fungsinya untuk membuat permukaan kulit menjadi baal atau mati rasa. Pasien akan merasa kulitnya dingin, sehingga cukup mengurangi rasa sakit saat jarum menembus permukaan kulit.

Selain berupa semprotan, ada juga yang berupa salep. Salep ini fungsinya sama seperti semprotan tersebut. Hanya saja harus dioleskan satu jam sebelum akan ditusuk jarum hemodialisis.

Setelah menjalani hemodialisis bukan berarti fungsi kerja ginjal menjadi normal. Hemodialisis ini hanya sebagai pengganti setengah dari fungsi kerja ginjal. Maka dari itu pasien gagal ginjal akut dan kronis yang sudah melakukan hemodialisis tetap harus menjaga pola makan dan kegiatan mereka. Pantangan makanan tetap tidak boleh dilanggar. Pantangan ini berbeda pada setiap pasien, bergantung pada penyebab awal terjadinya gagal ginjal. Konsultasikan mengenai diet makan pasien pada ahli gizi.

Bagi pasien dan keluarga pasien yang mengalami gagal ginjal akut dan kronis serta harus menjalani hemodialisis, bersabarlah. Tenangkan hati dan pikiran, kuatkan mental, tetapi berusaha, serta berdoa. Seorang pasien meninggal bukan karena sakit gagal ginjal tetapi karena kontraknya dengan Tuhan memang sudah berakhir. Karena itu tetaplah semangat, berusaha, berdoa, dan iklhlas.

Sumber: Pengalaman pribadi.

Penulis: yossika tantri

Foto Profil dari yossika tantri
Saya bekerja dari rumah. Berkecimpung di dunia internet marketing dan kewirausahaan. sedang mengeksplor diri lebih jauh.

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2014/11/04/6842/664xauto-awas-usia-25-tahun-ke-atas-rentan-alami-penuaan-dini-141104j.jpg

Takut Tua? Ini Dia 9 Cara Menghindari Penuaan Dini

Penuaan merupakan hal yang wajar bagi manusia. Memasuki usia 30, kemampuan kulit ...