Kesehatan / Wawasan / Waspada Bahaya Cacingan pada Anak-Anak

Waspada Bahaya Cacingan pada Anak-Anak

Lingkungan  yang tidak sehat cenderung menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Terutama pada warga yang bermukim di daerah tersebut. Salah satu masalah kesehatan yang sangat mungkin terjadi adalah penyakit cacingan. Kasus cacingan sangat gampang menular, terutama di daerah pemukiman yang kumuh. Apalagi jika di lingkungan tersebut masyarakat membuang tinja tidak pada tempat pembuangan khusus (seperti septic tank). Melainkan langsunng mengalirkan air buangan WC ke got, kali atau sungai.

Anak-anak Sangat Rentan Terserang Cacingan

life.viva.co.id

life.viva.co.id

Ya, kelompok yang paling umum terserang cacingan adalah anak-anak. Pernah menemui anak-anak, adik atau saudara Anda yang memiliki ciri fisik yang tidak lazim. Seperti, perut buncit, terlihat lesu, tidak bersemangat, sering menggaru-garuk bagian dubur karena gatal dan muntah cacing. Jika menemukan ciri-ciri seperti itu segeralah periksakan feses anak Anda ke laboratorium. Besar kemungkinan si anak terserang cacingan.

Anak-anak memang sangat rentan terserang cacingan. Menurut Prof dr Saleha Sungkar pakar parasitologi Fakultas Kedokteran UI –seperti dikutib dari pernyataan beliau di rubrik Kesehatan Keluarga Majalah Ummi edisi Maret 2011– menyebutkan bahwa kasus cacingan lebih banyak ditemui pada anak-anak usia SD. Faktor utama penyebabnya adalah karena anak-anak seusia itu senang bermain tanah. Tanah merupakan media penularan cacing yang paling umum dan terpenting.

Nah, Anda tentu ingin tau lebih jauh bagaimana tanah bisa menjadi media penularan cacing yang paling penting? Dalam rubrik Kesehatan Keluarga Majalah Ummi edisi Maret 2011 Prof dr Saleha Sungkar menjelaskan bahwa siklus cacingan berawal dari pembuangan tinja yang mengandung telur cacing. Umumnya di daerah yang kasus penyebaran penyakit cacingnya tinggi, masyarakatnya kurang memperhatikan keamanan pembuangan limbah tinjanya. Mereka tidak membuang limbah tinja ke tempat pembuangan khusus seperti septic tank. Melainkan pembuangan limbah tinja dari WC langsung dialirkan ke lingkungan seperti ke got atau sungai.

Akibatnya, tinja yang mengandung telur cacing ikut terbuang ke lingkungan. Air got dan sungai ikut tercemar telur cacing. Sementara air sungai sering dimanfaatkan oleh warga untuk berbagai kebutuhan. Termasuk untuk menyiram tanaman atau tanah yang kering agar tidak berdemu. Akibatnya, telur cacing ikut terbawa bersama air siraman untuk menyirami tanah dan tanaman. Nah, melalui proses ini atau hal lain akhirnya telur cacing berpindah ke tanah dan tanaman.

Jadi, anak-anak yang gemar bermain tanah seringkali rentan tertular cacingan. Saat bermain tanah, sangat besar kemungkinan telur cacing yang terdapat pada tanah menempel di tangan anak bersama tanah dan tersembunyi di sela-sela kuku. Anak-anak umumnya memiliki kesadaran kebersihan yang masih rendah. Sangat mungkin mreka menyentuh makanan tanpa terlebih dahulu mencuci tangan. Atau tidak mencuci tangan dengan bersih, sehingga telur cacing yang sangat halus masih menempel di sela-sela jari dan kuku. Akibatnya, ketika mereka menyentuh makanan telur cacing berpindah pada makanan dan akhirnya masuk ke dalam mulut dan saluran pencernaan bersama makanan tersebut.

Selain melalui media tanah telur cacing juga bisa ditularkan melalui media lain. Seperti, buah dan sayur yang tidak dicuci bersih, makanan yang tidak diolah, air yang tercemar dan lainnya. Nah, Belovers yuk kita jaga kebersihan lingkungan dan makanan kita. Demi kesehatan si kecil dan keluarga yang kita cintai.

Bahaya Cacingan

kesehatan.us

kesehatan.us

Cacing menjadi parasit dalam tubuh. Telur cacing yang masuk dalam tubuh akan menetas di dalam usus. Nah untuk kelangsungan hidupnya di dalam tubuh manusia, si cacing ini akan menghisap zat-zat makanan atau zat-zat gizi dari tubuh kita.

Sebagai gambaran kedahsyatan cacing ini dalam merampok zat-zat gizi dari tubuh kita, perhatikan data berikut:

  • Satu ekor cacing gelang dalam satu hari mampu menyerap 0,14 gram karbohidrat
  • Satu ekor cacing gelang dalam satu hari mampu menyerap 0,035 gram protein
  • Satu ekor cacing cambuk dan cacing tambang dalam satu hari bisa menghisap 0,005 mm hingga 0,2 mm darah.

Belovers, itu baru data untuk satu ekor cacing dalam satu hari. Padahal, tubuh seorang anak yang terinfeksi cacingan, rata-rata mengandung 50 hingga 100 ekor cacing. Bisa dibayangkan berapa banyak darah dan zat gizi yang terpaksa disumbangkan untuk kehidupan cacing-cacing tersebut di dalam tubuh anak kita.

Kondisi ini menyebabkan penderita cacingan mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti:

  • Kekurangan gizi
  • Anemia
  • Menurunnya daya konsentrasi dan kecerdasan
  • Hambatan pada perkembangan fisik dan mental
  • Daya tahan tubuh menurun, sehingga penderita menjadi rentan terserang penyakit-penyakit lainnya.

Memang sangat jarang kasus cacingan berakhir dengan kematian. Namun, melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh cacingan, sudah seharusnya kta tidak meremehkan penyakit ini. Mengapa? Karena dampak yang ditimbulkan oleh cacingan ini bisa menurunkan kualitas fisik dan mental calon generasi muda bangsa. Bisa dibayangkan jika kasus cacingan menjadi wabah di masyarakat. Maka hal ini secara tidak langsung akan menurunkan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut secara masif. Selanjutnya dampak negatif secara ekonomi dan sosial akan mengikuti di belakangnya.

Mendeteksi Gejala Cacingan pada Buah Hati

Deteksi dini gejala cacingan pada buah hati perlu dilakukan. Semakin dini gejala cacingan terdeteksi maka upaya pengobatannya juga akan semakin mudah dan cepat dilakukan. Keuntungan lainnya adalah efek negatif yang ditimbulkan oleh gejala cacingan itu juga akan semakin sedikit.

Beberapa gejala cacingan yang paling umum ditemui pada anak antara lain:

  1. Tubuh anak terlihat kurus, padahal nafsu makan tetap.
  2. Perut buncit.
  3. Lesu, mata sayu dan terlihat  tidak bersemangat.
  4. Sering terlihat menggaruk-garuk daerah sekitar dubur karena gatal.
  5. Muntah cacing

Ini merupakan gejala umum yang ditemui pada penderita cacingan. Segera lakukan pemeriksaan pada feses anak. Apakah terdapat telur cacing atau tidak. Pemeriksaan feses di laboratorium lebih utama. Agar diperoleh informasi yang lebih akurat untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat. Karena, jenis cacing yang berbeda membutuhkan obat yang berbeda juga.

Upaya Pencegahan

Upaya pencegahan selalu lebih baik dan utama dilakukan. Pemerintah melalui dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan posyandu terus secara berkala melakukan upaya penyadaran pada masyarakat. Baik melalui penyuluhan kesehatan, poster, iklan layanan masyarakat dan media-media lainnya. Ini merupakan upaya positif yang patut kita apresiasi.

Namun, ujung tombak pencegahan tersebut tetap berada di tangan individu masyarakat itu sendiri. Berikut adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan cacingan:

  1.  menjaga kebersihan lingkungan. Pastikan tinja dan air buangan WC disalurkan pada septic tank agar tidak mencemari lingkungan.
  2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir  sebelum makan dan setelah buang air besar.
  3. Jika anak terserang cacing kremi, pakaikan celana panjang sebelum tidur. Agar anak tidak menggaruk-garuk area dubur secara langsung saat tidur. Ganti pakaian dan alas kasur kasur anak setiap hari. Untuk mencegah kontaminasi telur cacing pada pakaian dan alas kasur.

Demikian sekilas informasi tentang bahaya cacingan pada anak. Semoga bermanfaat!

Penulis: Neti Suriana

Foto Profil dari Neti Suriana
Author, content writer, blogger

2 comments

  1. aduuh itu yang muntah cacing ko rasanya serem. saya sih bukan anak-anak,, tapi kadang suka gatel diarea itu,, padahal saya termasuk orang yang gemuk,, tapi dikit ko gemuknya juga,,,
    oh ya kalau pake obat cacing ngaruh gak sih? bakal ngeredain rasa gatal gak ya?

  2. Foto Profil dari Neti Suriana

    penyebab gatalnya apa dulu bu? lebih baik dicek dan konsultasikan dgn dokter utk mendapatkan penanganan yg tepat.

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

Takut Tua? Ini Dia 9 Cara Menghindari Penuaan Dini

Penuaan merupakan hal yang wajar bagi manusia. Memasuki usia 30, kemampuan kulit ...