Kesehatan / Informasi / Kartu Indonesia Sehat, Apa dan Untuk Siapa?

Kartu Indonesia Sehat, Apa dan Untuk Siapa?

Gambar: joglosemar.co

Gambar: joglosemar.co

Kartu Indonesia Sehat (KIS) sedang menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Kartu sakti yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo di awal masa pemerintahannya ini ditanggapi beragam oleh masyarkat. Ada yang memandang program ini sebagai salah satu bentuk pencitraan. Dinilai KIS hanyalah pengalihan nama saja dari program jaminan kesehatan yang pernah ada di masa pemerintahan sebelumnya. Selain itu, peluncuran program KIS juga dinilai terlalu terburu-buru dan cacat hukum. Seperti apa sebenarnya program Kartu Indonesia Sehat ini? Benarkah program ini hanya pengalihan nama saja dari program sejenis yang pernah diluncurkan oleh pada masa pemerintahan SBY?

Realisasi Janji Kampanye

Kartu Indonesia Sehat yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada hari senin, 03 November 2014 tersebut ditenggarai merupakan bentuk realisasi janji-janji kampanye Jokowi saat pilpres yang lalu. Sebagaimana kita ketahui, saat kampanye yang lalu, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sejahtera akan menjadi salah satu program andalannya ketika terpilih menjadi presiden.

Bersamaan dengan berhembusnya isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), pemerintahan Jokowi bergerak cepat meluncurkan program kartu saktinya. Program kartu sakti ini diharapkan bermanfaat untuk menanggulangi dampak negatif dari kenaikan harga BBM. Khususnya bagi masyarakat miskin yang rentan terkena imbas dari kenaikan harga BBM ini. Diharapkan dengan kartu ini, masyarakat pemegang KIS tidak kesulitan lagi mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Kartu Indonesia Sehat vs Jaminan Kesehatan Nasional

Sebelumnya, kita sudah mengenal program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjadi program andalan dari pemerintahan SBY. Pertanyaannya adalah apakah program Kartu Indonesia Sehat hanya hasil pengalihan nama dari program Jaminan Kesehatan Nasional?

Untuk menjawab pertanyaan ini, yuk kita kenali lebih jauh kedua program ini. Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah sama-sama program jaminan kesehatan untuk warga negara yang diluncurkan oleh pemerintah dan diterapkan secara nasional. Pelaksana program jaminan kesehatan ini adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Secara keseluruhan sebenarnya KIS dan JKN adalah sama tapi beda. Maksudnya, program Kartu Indonesia Sehat (KIS) pada dasarnya sama dengan program Jaminan Kesehatan Nasional. Yaitu program nasional jaminan kesehatan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan akses kesehatan. Selain itu, menurut Akmal Taher, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan, biaya premi untuk program KIS dan JKN adalah sama dan memakai anggaran negara tahun 2014.

Meskipun memiliki banyak persamaan, program KIS dan JKN tidak sepenuhnya sama. Terdapat beberapa perbedaan pada kedua program ini. Misalnya, pada program JKN jangkauan penerimanya terbatas pada keluarga miskin, bukan untuk perorangan. Sementara jangkauan KIS diklaim lebih luas, karena menjangkau masyarakat miskin dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Siapa Penerima Kartu Indonesia Sehat?

Penerima KIS adalah masyarakat miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Adapun calon penerima KIS didata oleh kementrian sosial. Data calon penerima KIS ini kemudian didaftarkan ke BPJS untuk mendapat manfaat dari kartu sakti ini. Namun demikian, masyarakat umum yang tidak terdaftar melalui kementrian sosial juga bisa mendapatkan manfaat kartu sakti ini secara swadaya. Bagi masyarakat yang ingin mendaftar secara swadaya bisa datang langsung ke kantor BPJS terdekat.

Jadi, Kartu Indonesia Sehat sebenarnya adalah program jaminan kesehatan yang diterapkan secara nasional. Secara konsep dan teknis program ini program KIS memiliki beberapa perbedaan dengan program jaminan kesehatan sebelumnya (JKN). Namun demikian, tujuan peluncuran program KIS dan JKN secara prinsip adalah sama. Yaitu untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang berkualitas. Terutama bagi masyarakat miskin yang mendapatkan dampak langsung dari efek kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belakangan ini.

Penulis: Neti Suriana

Foto Profil dari Neti Suriana
Author, content writer, blogger

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

Takut Tua? Ini Dia 9 Cara Menghindari Penuaan Dini

Penuaan merupakan hal yang wajar bagi manusia. Memasuki usia 30, kemampuan kulit ...